Laung Rakyat
Biografi ini tentang Abah Guru Sekumpul, seorang Ulama Besar dari Kalimantan Selatan.

Biografi ini tentang Abah Guru Sekumpul, seorang Ulama Besar dari Kalimantan Selatan.

Apr 11, 2022 3 min read Copy Link

Muhammad Zaini bin Abdul Ghani al-Banjari, alias Abah Guru Sekumpul, adalah seorang intelektual terkenal di Kalimantan. Ia lahir pada tanggal 11 Februari 1942 atau 27 Muharram 1361 H, di desa Tunggul Irang, Martapura, Kabupaten Banjar.

Hj. Masliah binti H. Mulia bin Muhyiddin adalah ibunya, dan Abdul Ghani bin Abdul Manaf bin Muhammad Seman adalah ayahnya. Abah Guru Sekumpul adalah keturunan kedelapan dari Maulana Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah Al Banjari, salah seorang ulama besar Banjar.

Muhammad Zaini bin Abdul Ghani bin Abdul Manaf bin Muhammad Seman bin Muhammad Sa’ad bin Abdullah adalah keturunan dari Muhammad Zaini bin Abdul Ghani bin Abdul Manaf bin Muhammad Seman bin Muhammad Sa’ad bin Abdullah bin Mufti Muhammad Khalid bin al-Alim al- Allamah al-Khalifah Hasanuddin bin Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjar

Pendidikan

Abah Guru Sekumpul memiliki hubungan dekat dengan ayah dan neneknya, yang mendorongnya untuk mempelajari Al-Qur’an dan menanamkan disiplin dalam pendidikan tauhid dan moralnya. Sejak ia masih kecil, orang tuanya menanamkan dalam dirinya perasaan cinta dan hormat kepada ulama, menginspirasi dia untuk mengejar karir di bidang sains. Satu-satunya orang yang dia kenal adalah nenek dan ayahnya.

Paman Abah Guru Sekumpul, Syekh Seman Mulia, juga membantu pendidikannya. Pamannya mengajarinya baik di sekolah maupun di luar sekolah. Abah Guru Seman juga didorong oleh Abah Guru Seman untuk melakukan kunjungan ke tokoh-tokoh Islam ternama di bidang spesialisasinya baik di Kalimantan Selatan maupun Jawa.

Guru Seman misalnya, meminta Abah Guru Sekumpul untuk belajar hadits dan tafsir dengan Syekh Anang Sya’rani, al-Alim al-Allamah. Di tengah perjalanan, Abah Guru Sekumpul memperhatikan bahwa pamannya adalah seorang ahli dalam hampir semua aspek ilmu Islam, tetapi ia tidak memamerkannya kepada publik. Abah Guru Sekumpul mencontoh dirinya seperti alam, menjadi pria baik yang sabar, bahagia, baik hati, dan mencintai semua orang. Kakek Raden Patah, Syekh Bentong, dianggap sebagai pencetus Islamisasi Dakwah Jawa. Dia kembali ke Amerika Serikat setelah penjelajahannya di benua itu untuk belajar tentang agama dan masalah lainnya.

Buka   Teks Proklamasi Dibacakan Di Jakarta

Abah Guru Sekumpul ditugaskan untuk melatih Pondok Pesantren Darussalam Martapura. Setelah diusulkan oleh KH Abdul Qadir Hasan, KH Sya’rani Arif, dan KH Salim Ma’ruf, ia menjadi guru di pesantren tersebut. Abah Guru Sekumpul berhenti setelah lima tahun dan memilih untuk melanjutkan operasi dakwahnya dengan mendirikan studi di rumahnya di Istana Martapura.

Kajian ini dimulai sebagai salah satu cara untuk mendukung studi santri di Pondok Pesantren Darussalam Martapura dengan pengulangan buku teks ilmu instrumental seperti Nahwu dan Saraf.

Namun, audiens studi tersebut tumbuh dari waktu ke waktu, tidak hanya di kalangan siswa, tetapi juga di kalangan masyarakat luas. Dengan literatur yang lebih beragam, studi hukum, tasawuf, tafsir, dan hadits pun dimulai.

Abah Guru Sekumpul juga mentransmisikan Maulid al-Habsyi, atau Simthud Durar, oleh al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi. Kajian ini dilengkapi dengan penambahan puisi, atau kasidah, yang memuat puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW.

Pertemuan itu telah melampaui ruang belajar Istana Martapura.

Abah Guru Sekumpul berinisiatif memindahkan studinya ke lokasi baru. Pada 1980-an, Abah Guru Sekumpul memilih kawasan Sungai Kacang sebagai rumah dan tempat belajar barunya.

Kompleks Ar-Raudhah dinamai sesuai dengan nama rumah baru Abah Baru Sekumpul. Nama “Ar-Raudhah” digunakan di masjid Nabawi di Madinah.

Meninggal

Setelah mengabdikan dirinya sebagai pendakwah, Abah Guru Sekumpul menderita penyakit ginjal dan harus dirawat di Rumah Sakit Mount Elizabeth di Singapura. Setelah sepuluh hari menjalani terapi di Singapura, Abah Guru Sekumpul diizinkan kembali pada 9 Agustus 2005. Sebaliknya, Abah Guru Sekumpul meninggal keesokan harinya, 10 Agustus 2005, dalam usia 63 tahun. Abah Guru Sekumpul meninggal dunia. dimakamkan di lokasi pemakaman keluarga di Musala Ar Raudhah, Kalimantan Selatan.

Buka   Kumpulan Puisi Kemerdekaan 1945 Dalam Bahasa Inggris

Selain berdakwah, Abah Guru Sekumpul juga seorang penulis sepanjang hidupnya.

Salah satu karyanya yang banyak adalah 

  • Risalah Mubaraqah Asy-Syekh As-Sayyid Muhammad bin Abdul Karim Al-Qadiri Al-Hasani As-Samman Al-Madani 
  • Ar-Risalatun Nuraniyah fi Syarhit Tawassulatis Sammaniyah.
  • Nubdzatun fi Manaqibil Imamil Masyhur bil Ustadzil a’zham Muhammad bin Ali Ba’alawy, 

Pena dan Sterni adalah contohnya. Toha Ali (2020). Yogyakarta: Global Press, Kisah Guru Sekumpul

 

Pencarian Berdasarkan Kata Kunci Abah Guru Sekumpul - Abah Guru Sekumpul Wali Qutub - Abah Guru Sekumpul Wafat - Abah Guru Sekumpul Sholawat - Abah Guru Sekumpul Muda - Abah Guru Sekumpul Martapura - Abah Guru Sekumpul Keturunan Rasulullah - Abah Guru Sekumpul Dan Gus Dur - Abah Guru Sekumpul Adalah - Abah Guru Sekumpul Wallpaper -